Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 07 Februari 2013

Kesendirian Ibu Rodiah

Wajahnya yang keriput dengan rambut beruban, usia Ibu Rodiah sudah berumur 80  tahun. Ia satu-satunya prtrmpuan tua di desa terpencil yang masih bertahan hidup, meskipun cara ia berjalan tak selincah dulu tapi semangat hidupnya sangat tinggi. Kegigihan untuk bertahan hidup sering ia lalui dengan penuh cobaan. Anak stu-satunya yang merantau ke ibu kota tak kunjung datang karena itu ia selalu menunggu meskipun dalam penantian tak pasti. Tapi ia masih berharap anaknya akan pulang.

Hari demi hari ia lalui, beban yang ia rasakan menjadikannya sebagai bagian hidup. Ia berpikir lebih mengendalikan hati daripada harus menanam emosi yang akhirnya hidup penuh dengan grjolak. Wajae saja kesehariannya selalu bahagia, walaupun kadangkali ia harus menyimpan rasa rindu kepada anak semata wayangnya yang telah lama pergi.

Sudah kebiasaan Ibu Rodiah pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar, kira-kira pukul 08:00 di tengah jalan bertemu Ibu Maemunah yang masih lumayan muda ketimbang Ibu Rodiah. "Ibu, kenapa sendirian" tanya Ibu tadi. " Iya, ini sudah dua hari saya berangkat sendiri, karena tetanggaku lagi ke luar kota" jawab Ibu Rodiah, sambil berjalan pelan-pelan.

Sepanjang jalan mereka berbincang-bincang, tapi ketika Ibu Rodiah sampai tujuan. Ibu Maemunah melanjutkan perjalanan untuk pergi ke kebun karetnya yang ia garap. Merekapun berpisah dengan saling memberi ucapan hati-hati, karena hutan tersebut termasuk hutan berbahaya.Mereka berharap ketika pulang bisa bersama lagi, agar dapat melanjutkan perbincangan yang terpotong.

Waktupun terus berlalu, matahari sudah di atas kepala dengan cuaca nampak akan hujan karena awan semakin gelap. Benar sekali, ketika Ibu Rodiah baru bergegas tiba-tiba matahari tertutup awan hitam pekat dan suara petirpun menyambar bumi. Karena ketakutan Ibu Rodiah segera keluar hutan, kayu yang ia kumpulkan tak bisa dibawa semua. Perasaan takut dan was-was karena hantaman petir bisa merubah nyalinya menjadi menciut. Untung saja ada seseotang datang, dari kejauhan tak nampak mukanya hanya pakaiannya saja yang kelihatan hitam gelap karena keadaan sedang mendung, maklum berada di hutan yang dikelilingi pohon besar. Air hujan pun turun, tiba-tiba..."Ibu Rodiah...Ibu Rodiah..Ibu" panggilan Ibu Maemunah. Dalam benak Ibu rodiah "sepertinya saya kenal suaranya". Semakin dekat saja panggilan itu, krmudian Ibu Rodiah pun berhenti. Ia agak kaget, akhirnya hatinya merasa tenang dengan kedatangan temannya bisa pulang bersama lagi.

"Terima kasih ibu, untung Ibu masih disini" bahagiannya Ibu Rodiah.
"Sama-sama, tapi ini kan mau hujan..makanya saya pulang juga, dikira saya...Ibu sudah duluan" jawab Ibu Maemunah.
"Oh...." tersenyum Ibu Rodiah.

Akhirnya mereka pulang sampai tujuan, dan Bu Maemunah mampir sejenak ke rumah Ibu Rodaiah sambil meminum teh hangat dan meneruskan perbincangan hingga mereka berencana akan kr hutan bersama lagi.



0 komentar:

Posting Komentar